Suatu Catatan di Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2010

Suatu petikan pidato dari Presiden Pertama Republik Indonesia:

Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat ituDoakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru

Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.Yoo…ayoo… kita… Ganjang…

Ganjang…Malaysia

Ganjang… Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!Soekarno.

source: http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia

Masih relevenkah dengan keadaan sekarang sobat?

Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan berita konflik Indonesia dan Malaysia, mengenai ditangkapnya 3 orang petugas patroli Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh kepolisian Malaysia. Peristiwa ini langsung membangkitkan kenangan akan beberapa maasalah sebelumnya: sengketa Ambalat, masalah TKI dan lain lain. Dan betapa masalah ini menyulut semangat persatuan dan nasionalisme sebagian besar penduduk Indonesia. Terus bagaimana solusinya? Banyak protes yang disuarakan yang menganggap pemerintah terlalu lembek dan lamban. Yang rasa nasionalisme terbakar merasa kedaulatan bangsa ini dilecehkan. Akan perangkah kita?

Seharusnya tanpa perlu meneriakkan kata “Ganyang” dan tindakan anarkis lainnya kita masih bisa mempertahankan kedaulatan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita pasti bisa!! Mempertahan martabat dan harga diri bangsa bisa dilakukan tanpa membuat kerusakan baru, perang tidak akan memberi solusi. Tidak Pernah!

Indonesia adalah bangsa yang besar, seharusnya punya kedudukan yang setara kalau tidak mau dikatakan lebih kuat dengan negara-negara lain dalam hal ini dengan negara tetangga yang sering berbuat ulah dan mengusik Indonesia. Kenapa seolah pemerintah kita berada dalam posisi inferior bila menghadapi konflik dengan mereka sedangkan dukungan dari masyarakat sedemikian kuatnya? Apakah Pemerintah tidak merasa dilecehkan?

Sebaiknya kita melihat dulu ke dalam diri kita sendiri, apabila keadaan negara kita kuat dan punya kepercayaan diri yang tinggi tentunya orang lain akan berpikir panjang bila ingin mengusik kita. Maka dari itu, mending kita perbaiki dulu diri kita sendiri perkuat persatuan kita sehingga orang lain melihat kita dalam perspektif yang besar.

Memang benar kita harus mengakui kalau sekarang masih banyak masalah yang kita hadapi dan harus diselesaikan di dalam negeri, mengakuinya adalah langkah awal untuk perbaikan langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan itu sendiri, perbaikan yang harus dilakukan dari unit terkecil dari suatu negara yaitu diri kita sendiri sebagai warga negara. Mulai dari yang kecil mulai dari diri sendiri. Tak perlu kita berpikir dan berbicara yang besar-besar dulu, dari yang kecil dan sepele saja dulu, maukah kita antri secara tertib? maukah kita sopan dan tertib berlalu lintas, buang sampah pada tempatnya? Saya percaya kalau kesadaran ini menjadi gerakan yang lebih besar kita tidak perlu lagi peraturan-peraturan kaku yang membuat orang merasa dipaksa berbuat sesuatu. Tindakan yang berdasar kesadaran sendiri akan berdampak lebih besar dibanding dengan disuruh-suruh.

Masih banyak saya dengar keluhan: mengapa harus mikirin yang seperti itu mending mikir gimana caranya dapat duit banyak dan menjadi kaya. Silakan saja punya pendapat seperti itu, tidak perlu dipaksa atau bahkan dilecehkan tidak punya rasa nasionalis. Bila memang sudah waktunya dan semakin banyak orang sadar dan melakukan perbaikan sendiri orang yang semula tidak sependapat mau tidak mau akan melakukannya juga kalau tidak mau menjadi ‘orang aneh’ dan menjadi malu sendiri. Gerakan damai akan membawa dampak yang lebih positip daripada berlaku anarki, syaratnya adalah gerakan itu harus bersifat kontinyu dan konsisten.

Masih adakah orang Indonesia yang punya pikiran positip seperti itu? BANYAK! Walaupun masih dilakukan sendiri-sendiri dan secara sporadis, gerakan positip sudah banyak dan saya percaya akan selalu ada InsyaAllah semakin membesar. Karena pada dasarnya kita semua ingin hidup aman dan nyaman.

Jangan menganggap remeh, orang Indonesia sekarang udah pintar dan pandai sehingga tidak akan mudah dibohongi. Akan tetapi yang lebih penting lagi bahwa saya percaya semakin banyak orang Indonesia yang semakin bisa menggunakan nalar dan akal sehatnya dalam menilai suatu masalah sehingga tidak gampang terprovokasi dan ikut-ikutan.

Jangan terjebak dengan dogma bahwa orang yang sering mengkritik pemerintah adalah orang yang tidak nasionalis, marilah kita dengar kritik dengan memakai akal sehat. Kalau memang argumen kritiknya masuk akal sehat ‘kita’ kenapa tidak kita dukung? Demikian juga untuk tidak selalu apriori dengan kebijaksanaan pemerintah, sebaiknya disaring dulu dengan akal sehat sebelum meneriakkan kata tidak setuju.

Kita tidak akan dilecehkan oleh orang lain apabila kita sendiri kuat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s