Hidup dan Cita-cita

Masih ingatkah anda cita-cita waktu masih kecil dulu? Pasti ada yang punya cita-cita jadi dokter, guru, polisi, pilot, insinyur dan sebagainya. Sering pula cita-cita berganti sama cepatnya dengan waktu yang berlalu, karena teman berganti keinginan maka kita pun tak mau kalah atau melihat sesuatu yang baru yang kelihatan hebat waktu itu. Coba diingat lagi apa saja cita-cita anda waktu kecil dulu, mungkin terasa lucu sampai membuat anda senyum-senyum geli atau bahkan bersedih mengingat betapa indahnya masa itu dan betapa cepatnya berlalu.

Tidak ada yang salah mengenai semua keinginan itu, bercita-cita adalah wajar dan manusiawi karena dengan keinginan  itu kita bisa bergerak maju. Waktu kecil seakan semuanya serba mungkin kita capai tanpa memikirkan halangan dan rintangan serta jalan berliku untuk mencapai cita-cita. Seiring dengan berjalannya waktu semakin tersadar pula kita akan yang namanya kenyataan atau realita kehidupan bahwa masing-masing dari kita mempunyai keterbatasan kemampuan dan tidak semua keinginan kita bisa terwujud. Bukan hanya keterbatasan materiil yang menjadi halangan tetapi juga keterbatasan semangat, sering fasilitas yang lengkap malah melemahkan semangat untuk berjuang.

Berapa banyak dari kita yang bisa mewujudkan cita-cita yang memang sangat diinginkan, setelah tercapai apakah sesuai dengan yang dibayangkan dulu? Lebih indahkah? atau sebaliknya?

Tidak sedikit yang bersusah payah menyelesaikan kuliah dengan harapan dapat berkarier sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari ternyata keadaan berkata lain. Selama yang bersangkutan dapat beradaptasi dan menerima keadaan tentu tidak menjadi masalah. Sebaliknya bila harus terpaksa menerima kenyataan bahwa hidup memang sering kali tidak berjalan sesuai dengan kemauan kita akan mengalami rasa yang tidak menyenangkan. Betul memang semuanya relatif, tergantung dari sudut mana kita melihat dan dari kacamata siapa melihatnya. Tapi satu yang tidak bisa dipungkiri : inilah hidup, inilah realita!

Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit usia kita bertambah dan itu berarti waktu dan kesempatan untuk mengejar cita-cita  yang belum terwujud semakin sempit. Mungkin harus merelakan satu persatu keinginan demi sesuatu yang lain yang memang harus kita jalani. Mengalah demi sesuatu yang kita cintai bukanlah hal yang tabu dan memalukan. Anda mungkin seorang pecinta alam yang menyimpan cita-cita untuk mendaki pegunungan Himalaya, tetapi anak dan keluarga tercinta membutuhkan kehadiran anda dalam kehidupan mereka dan demi terjaminnya kebutuhan hidup keluarga anda harus mengubur setidaknya menunda keinginan atau cita-cita itu. Ada satu hal yang menggembirakan, kita tidak tahu sampai kapan kita diberi waktu oleh Yang Maha Kuasa, maka dari itu sampai waktu itu tiba tidak ada salahnya tetap menyimpan cita-cita agar hidup kita tetap bersemangat karena masih ada sesuatu di luar sana yang ingin kita raih.

Melihat anak tumbuh sehat dan ceria adalah obat mujarab buat menghibur hati melupakan waktu yang telah lewat dan keinginan-keinginan pribadi yang harus disingkirkan dan dikubur. Itu cara saya, bagaimana dengan anda??

Bekasi, medio April 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s